JAKARTA-08:01
Pemuda yang tidak mendapat kasur terempuk di rumah mewah,yang tidak mendapat air hangat dari shower,yang tidak mempunyai seribu setelan baju. Jika kau merasa tersindir,memang aku menyindir. Namun,bersyukurlah kau orang paling bahagia di bumi pertiwi ini. Sama halnya dengan Vernanda;panggil saja Nanda. Anak kos yang penghafal Al-Qur`an dan tengah menempuh S-1 sastra inggris. Pagi-pagi, pemandangannya bukanlah balkon yang menyuguhkan pemandangan kota tapi,hanya sebuah meja penuh dengan lembaran revisi yang menumpuk. Alih-alih menyapa netizen dengan ucapan “selamat pagi dunia…”,ia hanya menekan ikon like pada postingan orang-orang itu. Kemudian, langsung menyambar laptop dan mengerjakan revisi dari dosennya.
Untungnya,ia mendapat kelas siang.Masih pukul 8. Ia teringat tiga potong tempe dan sepiring nasi yang belum sempat ia habiskan semalam. Kau tahu apa maksud Nanda?kalau kau menjawab ia akan memanaskan tiga potong tempe dan memasak nasi goreng,100 untukmu. Memang nasi goreng dan tempe goreng bukan pasangan yang serasi. Namun,itu lebih baik daripada mengeluarkan 30 ribu rupiah untuk 2 bungkus nasi padang pagi dan siang,bukan?. Asal perut kenyang,tak apa bagi Nanda.
Omong-omong,kenapa tidak mandi dulu?. Guna menghemat air,waktu,dan menabung waktu tidur,Nanda memilih untuk kebo—mandi setelah kenyang.
Duduk bersila dengan satu kaki terangkat adalah gaya duduk ternyaman bagi Nanda. Tidak ercaya?coba saja sunnah nabi itu!. Tempe yang ia masak masih renyah,walaupun tak senikmat tadi malam. Nasi goreng…setidaknya lebih baik dari nasi putih kasar. Meski ia bekerja sampingan di warung makan ternama,ia jarang-jarang mendapat menu terenak. Tapi,lagi-lagi,ia tersenyum saat menggigit sekeping tempe untuk yang ketiga kalinya. Membuat sarapannya sedikit lebih nikmat.
JOMBANG-07:01(5 TAHUN LALU)
“Da,Nanda! Dari mana aja kamu?” tanya Dayu pada Vernanda yang baru datang menyambar nampan. Dengan kerudung segiempat asal – asalan,Nanda menggidikkan bahu. “menantu idaman tuh kayak gini. Setoran sampe jam 7” jawab Nanda penuh gaya. Disahut “huu…” oleh Dayu dan antek – antek lain — Rumi,Syifa,dan Ayla.
Menuju dapur,ceting-ceting penuh nasi panas berjejer. Uapnya mengepul di udara. Nanda menyiduk 7 entong nasi. Ia meratakan nasi diatas nampan itu. “Mbok,sayurnya buat lima orang ya..”ucap Nanda seraya mengulurkan nampan tadi. “Lima orang tuh buat siapa aja sih nak,nak?” gerutu mbok Yem — tukang masak pondok putri. Seperti biasa,ah ujian santriwati. Pasalnya,satu orang hanya dapat setengah onggok sayur. Tapi, ya sudahlah,toh masih ada kerupuk kulit.
Begitu Nanda sampai di kamarnya,ia letakkan satu bungkusan panjang kerupuk kulit dan satu nampan nasi + sayur. Mata Rumi menyipit. “Segini doang?” keluhnya. Membuat Nanda berdecak satu kali. “Ambil sendiri kalo emang kurang,Rum”jawabnya.
“Lah iya,siapa yang tugas,Nda?”
“Mbok Yem” satu tongkrongan ber-halah serempak.
“Nenekmu,Ay. Dirawat yang bener,dong” timpal Syifa.
“Lah bocah, kakk nenekku udah lima,ya!nggak usah nambah-nambahin”
“Gak papa dong…lebaran nanti THR nya nambah..”
“Kamu nanti dapet 200 rb,Ay!gak papa..”
“Halah 200 rupiah (koin) iya nanti”
Satu tongkrongannya tergelak; tak terkecuali Nanda. Dengan posisi bersila dalang,Nanda mengambil seonggok nasi dan sayur. Hanya itu. Sesederhana itu. Hanya senampan makanan seadanya. Kalau Nanda punya lauk kiriman,itu bonus ekstra—dan teman makan bersama. Hal paling sederhana,yang tak bisa diulang di masa yang akan datang.





